Merunut Sejarah Asal Usul Suku Batak

Untuk merunut dan mengungkap sejarah asal usul keberadaan Suku Batak, perlu merunut bagaimana jejak peradabannya bermula. Sekitra 3 ribu tahun yang lalu, peradaban Batak dimulai dengan proses perjalanan sejarah yang panjang sebagai ras suku Melayu Tua (Proto Melayu). Suku ini terkenal mempunyai adat istiadat, tradisi, filosofi hidup dan kepercayaan yang tinggi.

Sepanjang sejarah Suku Batak Kuno (Toba Tua) di Sumatera, pernah terdapat tiga dinasti kerajaan yang menyatukan berbagai kelompok suku yang mempunyai keterkaitan dengan beberapa suku dari India Selatan, pedalaman Myanmar (Burma) – Thailand dan Tibet, yang sebelumnya telah mendiami kepulauan dan Pulau Sumatera sejak abad sebelum masehi (+ 1.500 SM). Primus Interpares (pemimpin di atas para pemimpin) suku membentuk sebuah dinasti yang menaungi kelompok klan, kerajaan-kerajaan suku di Tanah Batak (sampai dengan Aceh) hingga Raja-raja marga-marga dan Wilayah Huta.

Ketiga dinasti tersebut: yang pertama adalah dinasti Sori Mangaraja yang dipimpin oleh seorang raja monarki dengan gelar Sori Mangaraja yang merupakan adapatasi bahasa dari gelar Sri Maharaja. Dinasti ini berdiri hampir selama 300-500 tahun sejak abad ke-7 hingga abad ke-12 M. Pusat pemerintahan dan ibu kotanya terletak di Lobu Tua, Barus dan Pansur yang dijadikan kota pelabuhan dan pusat perdagangan. Akhir masa dari dinasti ini terjadi akibat serangan Kerajaan Chola yang berasal dari India dengan kerajaan Sriwijaya termasuk daerah kekuasaannya.

Dinasti kedua yakni dinasti Hatorusan. Dinasti ini berusaha membangun kembali tatanan kota, tradisi dan kejayaan dinasti Sori Mangaraja. Dinasti Hatorusan dipimpin oleh seorang raja yang bergelar Raja Hatorusan, raja pertamanya adalah Uti Mutiaraja yang berasal dari keturunan Guru Tatea Bulan, Pusak Buhit. Wilayah kekuasaanya berada di Barus yang mencakup hingga perbatasan wilayah Aceh. Pada awal abad 15, tampuk kekuasaannya diserahkan kepada dinasti Sisingamangaraja dari Negeri Bakkara yang terkenal dengan kerajaan Bakkara yang kini bernama Balige.

Kota Balige terletak di sekitar 250 kilometer dari ibu kota provinsi Sumatera Utara. Kota ini merupakan ibu kota kabupaten Toba Samosir yang memiliki luas wilayah 91 kilometer persegi. Kota ini dapat dicapai melalui 2 bandara di Sumatera Utara, yaitu bandara Kualanamu dalam waktu tempuh 6 sampai 7 jam perjalanan dan bandara Silangit dengan waktu tempuh 30 hingga 60 menit. Di ibukota kabupaten yang terkenal dengan sebutan Tobasa ini, terdapat beberapa perbukitan yang biasa didatangi untuk menikmati indahnya Danau Toba. Kota Balige inilah yang memiliki jejak sejarah yang berkaitan dengan kerajaan Batak Kuno dinasti Bakkara.

Dinasti Bakkara dipimpin oleh Raja Sisingamangaraja I-XII yang berdiri dari abad ke-16 hingga abad ke-19 atau hampir selama 400 tahun. Dalam sejarahnya, dinasti ini mengalami peperangan dengan Belanda selama 30 tahun. Raja Sisingamangaraja XII gugur dalam pertempuran di Si Onom Hudon di tahun 1907 sekaligus menandakan berakhirnya kerajaan dinasti Bakkara.

Di kota Balige inilah, Raja Sisingamangaraja XII dimakamkan, tepatnya di jalan Soposurung daerah Pagarbatu, Kecamatan Balige yang berjarak 2 kilometer dari pusat kota. Sisingamangaraja XII yang bergelar Ompu Pulo Batu ini dikenal sebagai rajanya Orang Batak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *